ads

Cara Membuat Analisa Harga Satuan Sendiri

Apa itu Analisa Harga Satuan Sendiri

Analisa harga satuan (AHS) sangat penting dalam proyek konstruksi, karena menentukan biaya setiap pekerjaan atau material yang digunakan. Dengan AHS yang akurat, anggaran proyek bisa dihitung dengan lebih efisien dan menghindari pemborosan. Berikut adalah langkah-langkah dalam membuat analisa harga satuan sendiri.



1. Tentukan Jenis Pekerjaan atau Material

Langkah pertama adalah menentukan pekerjaan atau material yang akan dianalisis. Misalnya:

  • Pekerjaan beton (kolom, balok, pelat lantai)
  • Pekerjaan pasangan bata
  • Pekerjaan plesteran
  • Pekerjaan pengecatan

2. Identifikasi Komponen Biaya

Analisa harga satuan terdiri dari beberapa komponen biaya utama:

  • Biaya Material: Harga bahan bangunan seperti pasir, semen, batu bata, atau besi.
  • Biaya Tenaga Kerja: Upah pekerja per jam atau per hari.
  • Biaya Alat: Sewa atau penyusutan alat seperti molen, scaffolding, atau pompa beton.

3. Hitung Kebutuhan Material, Tenaga Kerja, dan Alat

Setiap jenis pekerjaan memiliki kebutuhan material dan tenaga kerja tertentu. Misalnya, untuk pekerjaan pasangan bata per meter persegi, diperlukan:

  • Batu bata: 70 buah
  • Semen: 0,015 m³
  • Pasir: 0,04 m³
  • Tukang batu: 0,3 hari
  • Pekerja: 0,2 hari

4. Cari Harga Pasaran untuk Material, Tenaga Kerja, dan Alat

Lakukan survei harga di toko bangunan atau sumber lain untuk mendapatkan harga terbaru. Contoh harga:

  • Batu bata: Rp 800/buah
  • Semen: Rp 60.000 per sak (50 kg)
  • Pasir: Rp 200.000 per m³
  • Upah tukang batu: Rp 150.000/hari
  • Upah pekerja: Rp 120.000/hari

5. Hitung Total Biaya per Satuan Pekerjaan

Setelah mendapatkan harga, lakukan perhitungan biaya sebagai berikut:

Contoh Perhitungan Analisa Harga Satuan

Misalnya, untuk pekerjaan pasangan bata per meter persegi:

Komponen

Kebutuhan

Harga Satuan

Total Biaya

Batu bata

70 buah

Rp 800

Rp 56.000

Semen

0,015 m³

Rp 60.000/m³

Rp 900

Pasir

0,04 m³

Rp 200.000/m³

Rp 8.000

Tukang Batu

0,3 hari

Rp 150.000

Rp 45.000

Pekerja

0,2 hari

Rp 120.000

Rp 24.000

Total Biaya

Total biaya pekerjaan pasangan bata per m² = Rp 56.000 + Rp 900 + Rp 8.000 + Rp 45.000 + Rp 24.000 = Rp 133.900/m²

6. Tambahkan Koefisien Keuntungan dan Overhead

Biasanya, harga satuan juga memperhitungkan biaya tambahan seperti:

  • Overhead: Biaya administrasi, transportasi, dan operasional lainnya (5-10%)
  • Keuntungan: Profit yang ingin diperoleh (10-15%)

Misalnya, jika overhead 5% dan keuntungan 10%, maka:

  • Overhead = 5% × Rp 133.900 = Rp 6.695
  • Keuntungan = 10% × Rp 133.900 = Rp 13.390
  • Harga akhir per m² = Rp 133.900 + Rp 6.695 + Rp 13.390 = Rp 154.000/m²

7. Dokumentasikan dan Evaluasi

Buat tabel atau laporan berisi analisa harga satuan untuk berbagai jenis pekerjaan. Perbarui secara berkala sesuai dengan perubahan harga pasar.

8. Gunakan Software atau Spreadsheet untuk Kemudahan Perhitungan

Untuk mempercepat dan mempermudah analisa harga satuan, Anda bisa menggunakan software atau spreadsheet seperti:

  • Microsoft Excel atau Google Sheets: Buat tabel dan gunakan rumus otomatis untuk menghitung total biaya.
  • Software Estimasi Konstruksi: Seperti CostX, Primavera, atau AutoCost yang lebih spesifik untuk proyek konstruksi besar.
  • Aplikasi Perhitungan Online: Beberapa situs menyediakan kalkulator analisa harga satuan berdasarkan data terbaru.

Dengan menggunakan alat bantu ini, Anda bisa lebih cepat melakukan perubahan jika ada perubahan harga bahan atau upah tenaga kerja.

9. Bandingkan dengan Analisa Harga Satuan SNI

Jika Anda ingin memastikan akurasi, bandingkan hasil perhitungan Anda dengan analisa harga satuan dari Standar Nasional Indonesia (SNI). Beberapa referensi yang bisa digunakan antara lain:

  • SNI 7394:2008 tentang spesifikasi dan harga satuan pekerjaan konstruksi
  • Data dari Kementerian PUPR atau dinas terkait yang sering memperbarui harga satuan standar
  • Buku Analisa Harga Satuan Pekerjaan Konstruksi yang biasanya digunakan oleh para estimator proyek

Dengan membandingkan hasil perhitungan sendiri dengan standar SNI, Anda bisa memastikan bahwa harga yang digunakan tetap realistis dan kompetitif di pasaran.

10. Revisi dan Perbarui Secara Berkala

Harga material dan upah tenaga kerja bisa berubah sewaktu-waktu, sehingga analisa harga satuan yang Anda buat harus diperbarui secara berkala. Beberapa cara untuk memastikan data tetap akurat:

  • Melakukan survei harga setiap bulan atau kuartal di toko bangunan atau supplier.
  • Memantau kebijakan pemerintah terkait upah minimum pekerja konstruksi.
  • Mengevaluasi efisiensi tenaga kerja dan alat untuk mencari cara yang lebih hemat biaya.

Dengan pembaruan berkala, analisa harga satuan yang Anda buat akan tetap relevan dan dapat diandalkan untuk perencanaan proyek.

11. Studi Kasus: Contoh Analisa Harga Satuan pada Proyek Nyata

Agar lebih memahami penerapan analisa harga satuan, mari kita lihat contoh studi kasus sederhana pada proyek rumah tinggal.

Kasus: Pekerjaan Plesteran Dinding (1 m²)

Langkah 1: Identifikasi Komponen Biaya

Untuk pekerjaan plesteran dinding, bahan dan tenaga kerja yang dibutuhkan adalah:

  • Semen
  • Pasir
  • Air
  • Tukang plester
  • Pekerja pembantu

Langkah 2: Hitung Kebutuhan Material dan Tenaga Kerja

Berdasarkan pengalaman dan referensi SNI, kebutuhan per meter persegi adalah:

  • Semen: 6,5 kg
  • Pasir: 0,022 m³
  • Tukang plester: 0,25 hari
  • Pekerja: 0,15 hari

Langkah 3: Tentukan Harga Material dan Upah Tenaga Kerja

Dari survei pasar, didapatkan harga:

  • Semen: Rp 60.000 per sak (50 kg) → Rp 1.200/kg
  • Pasir: Rp 200.000 per m³
  • Upah tukang plester: Rp 160.000/hari
  • Upah pekerja: Rp 120.000/hari

Langkah 4: Hitung Biaya per Meter Persegi

Dengan menghitung berdasarkan kebutuhan material dan tenaga kerja:

Komponen

Kebutuhan

Harga Satuan

Total Biaya

Semen

6,5 kg

Rp 1.200/kg

Rp 7.800

Pasir

0,022 m³

Rp 200.000/m³

Rp 4.400

Tukang Plester

0,25 hari

Rp 160.000/hari

Rp 40.000

Pekerja

0,15 hari

Rp 120.000/hari

Rp 18.000

Total biaya sebelum overhead & keuntungan = Rp 70.200/m²

Langkah 5: Tambahkan Overhead dan Keuntungan

Misalkan:

  • Overhead 5% = 5% × Rp 70.200 = Rp 3.510
  • Keuntungan 10% = 10% × Rp 70.200 = Rp 7.020
  • Harga akhir per meter persegi = Rp 70.200 + Rp 3.510 + Rp 7.020 = Rp 80.730/m²

Dari sini, harga satuan plesteran dinding yang bisa digunakan dalam RAB proyek adalah Rp 81.000/m² (dibulatkan).

12. Tips Agar Analisa Harga Satuan Lebih Akurat

1. Lakukan Survei Harga Secara Rutin

Harga bahan bangunan dan upah tenaga kerja sering berubah. Pastikan Anda memperbarui data minimal setiap 3-6 bulan.

2. Gunakan Data Historis dari Proyek Sebelumnya

Jika Anda sering menangani proyek konstruksi, kumpulkan data dari proyek sebelumnya untuk referensi.

3. Sesuaikan dengan Lokasi Proyek

Harga material dan tenaga kerja bisa berbeda di setiap daerah. Analisa harga satuan di Jakarta mungkin tidak sama dengan di Surabaya atau Medan.

4. Gunakan Spreadsheet atau Software Estimasi

Aplikasi seperti Excel, AutoCost, atau CostX bisa membantu mengotomatiskan perhitungan agar lebih cepat dan minim kesalahan.

5. Perhitungkan Risiko dan Cadangan Biaya

Tambahkan margin cadangan biaya sekitar 5-10% untuk mengantisipasi kenaikan harga atau kondisi lapangan yang tidak terduga.

Kesimpulan Akhir

Membuat analisa harga satuan sendiri memungkinkan Anda untuk lebih mengontrol anggaran proyek secara lebih detail dan fleksibel. Dengan melakukan perhitungan secara sistematis mulai dari identifikasi pekerjaan, survei harga, hingga perhitungan total biaya, Anda bisa mendapatkan harga satuan yang akurat dan kompetitif.

Selain itu, selalu lakukan pembaruan data harga dan gunakan teknologi seperti spreadsheet atau software estimasi untuk meningkatkan efisiensi.

  

Subscribe to receive free email updates: